Penulis: Bobby Steven
Pengajar pada Fakultas Teologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta
OPINI 30 Juni 2025
Wafatnya Sri Paus Fransiskus pada 21 April lalu menjadi peristiwa duka. Bukan hanya bagi umat kristiani, namun juga bagi dunia. Semasa hidupnya, Sri Paus Fransiskus menjadi jembatan dialog antara umat beragama dan antara manusia dengan alam semesta. Beliau menerjemahkan kehendak ilahi dalam penjelasan yang mudah dipahami aneka kalangan.
Secara khusus, Paus Fransiskus mendapatkan tempat istimewa di hati kita karena beliau baru saja mengunjungi Indonesia pada September 2024 silam. Kunjungan Paus Fransiskus ke Indonesia menjadi catatan sejarah baru dalam kerangka relasi diplomatik Vatikan dan Indonesia. Vatikan adalah salah satu negara yang segera menyatakan dukungan terhadap kemerdekaan Republik Indonesia.
Lebih dari urusan diplomatik, silaturahmi Paus Fransiskus sebagai pimpinan Gereja Katolik ritus Romawi ke Indonesia menjadi jembatan persaudaraan global. Paus yang menggembalakan 1,376 miliar orang Katolik sedunia mendatangi Indonesia, negeri dengan 238 juta penduduk Islam (data 2021).
Paus Fransiskus adalah paus pertama non-Eropa sejak Paus asal Suriah, Paus Gregorius III (731-741). Nama asli beliau adalah Jorge Mario Bergoglio. Ia lahir di Buenos Aires pada 17 Desember 1936 sebagai putra dari imigran Italia. Sejarah hidup Paus Fransiskus sendiri sudah menjadi jembatan antara Eropa dan non-Eropa.
Menariknya, Paus yang bergelar pontifex maximus memang bermakna sebagai pembangun jembatan yang hebat. Gelar ini hendak menandaskan peran seorang Paus sebagai jembatan rohani antara kehendak surgawi dan realitas duniawi.
Menariknya lagi, Paus Fransiskus bukan hanya menjadi jembatan rohani, melainkan juga jembatan dialog bagi dunia kita yang dilukai oleh aneka konflik dan krisis berkepanjangan. Sri Paus memerankan fungsinya sebagai jembatan persaudaraan semesta dan alam ciptaan.
Persaudaraan universal
Ketika terpilih, Bergoglio memilih nama Fransiskus dari Assisi sebagai nama kepausannya. Tampaknya, Paus Fransiskus ingin menghadirkan kembali semangat kesederhanaan dan persaudaraan universal Santo Fransiskus dari Assisi, tokoh abad kedua belas. Dalam hidupnya, Fransiskus Assisi mencintai kaum miskin dan berdialog dengan siapa saja.
Salah satu peristiwa penting dalam hidup Fransiskus Asisi adalah perjumpaannya dengan Sultan Mesir yang beragama Islam, Sultan Al-Kamil. Dikisahkan, delapan abad lalu, Fransiskus nekat mengunjungi Damietta, Mesir di tengah Perang Salib (Historia Orientalis, 1221).
Terkesan oleh sosok Fransiskus yang bersahaja dan datang tanpa senjata, Sultan Al-Kamil meminta sahabat barunya itu untuk berdoa agar ia semakin dekat dengan Tuhan. Kedua tokoh besar agama berbeda itu menumbuhkan semangat persaudaraan (M. Calabria, 2019).
Paus Fransiskus yang merupakan Paus Gereja Katolik ke-266 ini meneruskan semangat dialog persaudaraan universal yang dirintis Santo Fransiskus Assisi. Paus Fransiskus dan Imam Besar Al-Azhar menandatangani Dokumen Persaudaraan Manusia untuk Hidup Bersama (Dokumen Abu Dhabi) Februari 2019 lalu.
Dalam kunjungan di Indonesia, Paus Fransiskus berjumpa dengan tokoh-tokoh lintas agama dan kepercayaan. Kamis, 5 September 2024, Paus mengadakan pertemuan antar-agama di Masjid Istiqlal. Masjid ikonik ini bersebelahan dan terhubung dengan Gereja Katedral Jakarta.
Sejarah Masjid Istiqlal juga memuat unsur toleransi kebangsaan. Friedrich Silaban, seorang penganut Kristen Protestan dipilih oleh Presiden Soekarno sebagai pemenang sayembara arsitek Masjid Istiqlal pada tahun 1955.
Jembatan Kristianitas dan Islam
Paus Fransiskus sungguh menjalankan perannya sebagai jembatan dialog antaragama. Menyitir Hans Kung, teolog Swiss, upaya dialog antariman adalah sebuah keniscayaan untuk perdamaian dunia.
Tidak ada kedamaian dunia tanpa kerukunan antaragama. Tidak ada kerukunan antaragama tanpa adanya dialog antaragama. Tidak ada dialog antaragama tanpa menyelami fondasi agama-agama (Joko Lelono, 2024).
Paus Fransiskus membangun dialog dengan sungguh mendalami fondasi agama-agama. Hal ini tampak dalam pemahaman integral, inklusif, dan dialogisnya mengenai beragama dalam keberagaman.
Paus Fransiskus tak segan mengapresiasi kekayaan dan keindahan iman dan agama lain. Beliau mengatakan, umat Islam mengimani dan beribadah kepada Tuhan Yang Maha Esa dan Maha Pengampun (20/3/2013). Sejatinya, pengakuan akan dua sifat ilahi itu pula yang menjadi fondasi iman kristiani.
Dalam Evangelii Gaudium, Fransiskus menunjukkan titik temu lain antara iman kristiani dan Islam. Umat kristiani dan Islam sama-sama terpanggil untuk menanggapi pewahyuan Yang Ilahi dengan jawaban etis dan sikap belas-kasih kepada kaum miskin.
Paus menekankan, Gereja Katolik selalu mendorong persahabatan dan saling hormat antara pemeluk aneka agama. Tanggung jawab pemeluk agama adalah mempromosikan cinta-kasih kepada sesama manusia dan alam ciptaan. Kita bertugas menciptakan keadilan, rekonsiliasi, dan kedamaian dunia.
Sri Paus menegaskan, setiap insan perlu memiliki sikap terbuka akan kebenaran dan cinta yang semestinya menjadi ciri dialog dengan orang beragama lain. Fundamentalisme beragama dari pihak kristiani maupun bukan kristiani perlu sungguh disikapi.
Dialog otentik bukan berarti menanggalkan identitas asali saat berjumpa dengan liyan. Bukan pula mengompromikan iman dan moral keagamaan masing-masing. Perjumpaan dengan liyan yang berbeda justru dapat menjadi sarana pertumbuhan dalam kasih persaudaraan. Kita diperkaya dengan perjumpaan dengan semakin banyak insan (Evangelii Gaudium no. 250-251).
Dalam dialog lain, Paus mengkritik proses homologisasi yang memaksakan orang lain untuk berpikir dengan satu keyakinan tunggal. “Masa depan terletak pada hidup bersama dengan penuh hormat pada keberagaman, bukan pada homologisasi pemikiran tunggal. “Kita telah melihat pada masa lalu tragedi akibat pemaksaan pemikiran tunggal ini. Menjadi pentinglah pengakuan akan hak asasi untuk beragama,” tegas Paus (28/11/2013).
Terkait kebebasan beragama, Sri Paus menghendaki agar sungguh terjadi penghormatan akan kebebasan beribadah. Negara-negara dengan penduduk Islam hendaknya menjamin kebebasan warga nonmuslim untuk beribadah. Islam dan penafsiran Alquran yang sejati menolak segala bentuk kekerasan. Demikian pula, negara-negara mayoritas kristiani semestinya memperlakukan umat Islam dengan hormat dan menjamin hak-hak beragama mereka. (Evangelii Gaudium no. 253).
Jembatan Perdamaian Palestina-Israel
Dalam pesan paskah pamungkasnya, Paus menyampaikan keprihatinan dan doanya untuk seluruh warga Palestina dan Israel. Beliau mendesak semua pihak yang berkonflik untuk menghentikan perang, membebaskan sandera, dan menolong mereka yang kelaparan (20/4).
Hingga hari-hari terakhir hidupnya, hampir tiap hari Paus menelepon pastor paroki dan warga di Jalur Gaza untuk menghibur mereka. Sapaan ini beliau lakukan selama delapan belas bulan. Tak heran, bagi warga Gaza, Paus Fransiskus menjadi sosok bapak penuh kasih-sayang.
Dalam kunjungan ke pemuka agama Islam di Yerusalem pada 2014, Sri Paus menegaskan kesamaan akar sejarah dan iman antara pemeluk agama-agama abrahamik: Yahudi, Kristen, dan Islam. Abraham atau Ibrahim menjadi titik temu sejarah ketiga agama besar dunia ini. Dalam diri Abraham, para pemeluk ketiga agama tadi menemukan sosok bapa dalam iman.
Paus berpesan, kita harus saling menghormati dan mencintai. Kita diajak memahami penderitaan sesama manusia. Tidak boleh ada seorang pun yang menggunakan nama Tuhan untuk membenarkan kekerasan. Umat manusia harus bekerja sama mewujudkan dunia yang adil dan damai (26/5/2014).
Paus membasuh kaki narapidana dari aneka agama sebagai wujud pelayanan pada kaum miskin. Ia juga membantu para imigran muslim yang menjadi korban perdagangan manusia lintas benua di Lampedusa, Italia selatan. Paus Fransiskus juga kerap mengadakan kunjungan dadakan ke kantong-kantong pengungsian.
Menyitir buku “Mereka Berharga di Mata-Ku” (Dirgaprimawan dkk. 2024), Paus Fransiskus menawarkan logika alternatif dalam memandang martabat setiap manusia. Karena itu, kita menyaksikan bagaimana Paus mendorong perjumpaan langsung dengan sesama dari segala latar belakang. Perjumpaan dengan liyan membongkar fanatisme dan fundamentalisme.

Facebook Comments