Perempuan dalam Rintik Realitas

Penulis: Maria Silvia Adeatma Lexa
Mahasiswi Universitas Mercu Buana Yogyakarta

Di bawah sinar pagi yang hangat, terpancar keteguhan dari sosok perempuan berusia 42 tahun bernama Novita Wati. Ia biasa disapa Wati. Kelahiran tahun 1983. Ia adalah warga asli Yogyakarta dan tinggal di sebuah ruang kecil sederhana yang terletak tepat di belakang gubuk minuman tempatnya berdagang.

Setiap hari, ia menjalani usahanya seorang diri, menerima sepi dan tantangan hidup dengan hati yang lapang. Kehadiran satu pembeli saja sudah ia anggap sebagai berkah luar biasa. Ada yang langsung membayar, ada pula yang diberi kepercayaan untuk melunasi kemudian sesuai kesepakatan.

Namun di balik ketulusan itu, Wati bergulat dengan kondisi sosial yang keras. Gubuknya yang terletak di Jalan Kumetiran dikelilingi lingkungan yang tak selalu ramah orang-orang yang sering mabuk, berteriak tanpa kendali, melontarkan ucapan kasar, merusak lapaknya, bahkan menuntut uang secara paksa. Dalam situasi penuh tekanan ini, Wati terus bertahan, dalam diam, dengan kekuatan yang tak tampak.

Selama hampir tiga dekade, ia tekun berdagang dan menghadapi semua rintangan dengan kesabaran yang tak tergoyahkan. Suaminya merantau ke Semarang untuk mencari nafkah, dan tak jelas kapan akan kembali. Meski terpisah jarak, keduanya memikul beban yang sama: bekerja keras demi keluarga dan anak-anak yang menggantungkan harapan pada mereka.

Setiap hari, ketika Wati pergi berbelanja kebutuhan, ia melewati jalan yang sama melintasi keramaian Malioboro dalam kesunyian. Ia berjalan sendirian, namun tetap teguh melangkah.

Usahanya pun tak sia-sia. Dalam sehari, ia bisa meraih penghasilan tertinggi hingga Rp400.000,00 dan paling sedikit sekitar Rp200.000,00, meski nominal itu tidak menentu akibat persaingan antarpedagang. Menu yang dijualnya pun beragam, dengan kopi Good Day Capuccino menjadi yang termahal di harga Rp6.000,00, dan es teh sebagai yang termurah di kisaran Rp4.000,00.

Wati memulai aktivitas jualannya sejak pukul 04.00 pagi hingga pukul 16.00 sore. Dahulu, ia berdagang hingga malam hari, saat pendapatan lebih besar. Namun kini, demi kenyamanan dan keselamatannya, ia memilih menutup jualan lebih awal. Bukan karena menyerah, melainkan sebagai bentuk perlindungan terhadap dirinya sendiri di tengah lingkungan yang tak selalu aman.

Kisah Wati adalah cerminan nyata kekuatan seorang perempuan dalam menghadapi ketidakpastian dan tekanan hidup. Ia bukan hanya seorang istri atau ibu, tapi juga tulang punggung keluarga bekerja tanpa lelah, berdiri sendiri di antara riuhnya realitas.

Tidak semua orang mampu menjalani hidup seperti dirinya: penuh semangat, penuh ketulusan, dan tanpa pernah mengandalkan orang lain sebagai satu-satunya sandaran hidup.

Facebook Comments